Showing posts with label konservasi. Show all posts
Showing posts with label konservasi. Show all posts

Saturday, 7 December 2013

Daftar lengkap Spesies termasuk Burung, Hewan dan Tanaman yang dilindungi

Spesies Terancam Punah ialah merupakan populasi makhluk hidup (spesies atau subspesies terpisahkan evolusi) yang ada didalam risiko kepunahan dikarenakan jumlahnya sedikit, ataupun terancam punah disebabkan pergantian kondisi alam atau hewan pemangsa.
Burung cucak gelambir biru yang sudah punah dan diawetkan ,  terakhir ditangkap tahun 1937 
di Aceh, Sumatra utara

Sunday, 10 November 2013

Burung untuk Indikator Kawasan Konservasi



Selamat datang di blog hargaburungkicau.blogspot.com yang di mana blog ini akan memebahas mengenai berbagai berbagai ragam jenis burung di Indonesia maupun sampai burung dunia, baik mengenai history burung , cara perawatan burung, cara ternak burung,budidaya burung, cara membuat burung kicau gacor,harga burung dan masih banyak lagi, adapun dalam postingan kali ini admin akan membahas tentang burung towa-towa berikut adalah ulasan lebih detailnya.

Burung mampu memberikan kontribusinya pada proses identifikasi daerah-daerah penting (prioritas) bagi konservasi keanekaragaman hayati

rangkong,julang,enggang,sulawesi,burungJulang (rangkong/enggang) Sulawesi (Aceros cassidix) di Sulawesi Utara. Menurut IUCN (Kesepakatan Internasional untuk Pelestarian Alam), Indonesia memiliki 13 spesies rangkong. (Reynold Sumayku/NGI).
Upaya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia telah banyak dilakukan, namun tidak dapat dipungkiri masih banyak titik-titik lemah yang dijumpai, seperti sumber daya (manusia, dana dan waktu). 

Kendala itu menjadikan upaya pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia tidak mudah, untuk itulah diperlukan prioritas bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati.
Prioritas tersebut sangat penting artinya bagi Indonesia yang memiliki luas wilayah dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya. 

Bila daerah-daerah prioritas tersebut telah berhasil diidentifikasi, maka sumberdaya yang sangat terbatas untuk aksi konservasi tersebut dapat dipusatkan pada daerah-daerah prioritas saja.

Banyak cara untuk mengidentifikasi daerah-daerah prioritas bagi konservasi, salah satunya dengan menggunakan burung. Mengapa burung, dan bukan satwa lainnya yang menjadi kunci identifikasi? 

Dan apakah suatu daerah atau kawasan yang memiliki beragam jenis burung sudah dapat dikatakan daerah itu penting bagi konservasi?

Burung mudah dilihat dan mampu memberikan kontribusinya pada proses identifikasi daerah-daerah penting (prioritas) bagi konservasi keanekaragaman hayati karena memiliki sifat-sifat yang lebih secara komparatif dibandingkan dengan kelompok satwa lainnya. 
Mengapa demikian? 

Pertama, burung hidup tersebar di seluruh bagian dunia, mulai dari daerah kutub utara/selatan hingga tropika di garis equator dan menempati berbagai tipe habitat dan berbagai ketinggian. Mulai dari pulau karang hingga ke puncak gunung.

Kedua, penelitian mengenai burung sudah ada sejak lama, sehingga data penyebarannya relatif telah cukup diketahui dan terdokumentasi dengan baik dan taksonominya terdapat di museum, sehingga memudahkan kita untuk mengetahuinya. 

Ketiga, relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan.
pulau rambut,burung air,konservasiPulau Rambut di perairan Teluk Jakarta menjadi surga burung air yang dapat kita kunjungi secara terbatas. Kini keberadaannya terancam oleh sampah yang terbawa dari aliran sungai Ibu Kota dan sekitarnya (Yoga Sutisna)
Sampai saat ini tidak ada kelompok hidupan liar lainnya yang memiliki ketiga hal tersebut di atas. Satwa lainnya memang telah banyak yang dikenal, namun tidak menempati seluruh bagian muka bumi dan tidak berada dalam beberapa tipe habitat. 

Contoh, kupu-kupu atau kumbang memang memiliki penyebaran yang sangat luas, mirip dengan burung, tetapi kurang memadai untuk dijadikan kunci/indikator. Hal ini karena pengetahuan kita terhadap taksonomi dan penyebarannya relatif masih kurang, seperti lebih banyak buku panduan pengenalan jenis burung daripada buku panduan mengenai kupu-kupu atau serangga.

Yang perlu disadari bersama, di sini sebenarnya burung hanya sebagai kunci. Kata kunci di sini memiliki makna yang luas, artinya beragamnya jenis burung pada suatu kawasan, dapat dikatakan kawasan atau daerah tersebut memiliki habitat yang masih baik. Tidak hanya burung saja tetapi menyangkut satwa lainnya. 

Selain itu, Daerah Penting bagi Burung (DPB) merupakan alat bantu yang dapat digunakan untuk mencari kawasan atau daerah yang secara global penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati.

Yang dimaksud dengan Daerah Penting bagi Burung yaitu daerah yang secara internasional penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati baik di tingkat global, regional maupun sub-regional. Selain itu merupakan alat bantu yang praktis untuk pelestarian keanekaragaman hayati dan dipilih dengan menggunakan kriteria-kriteria baku. 

Kriteria untuk menentukan daerah itu penting bagi burung, 
Pertama, terdapat spesies burung yang secara global terancam punah. 
Kedua, di dalam kawasan tersebut secara tetap terdapat spesies burung yang memiliki sebaran terbatas. 
Ketiga, di dalam kawasan tersebut terdapat spesies burung yang hidup dalam kelompok besar.

(Burung Indonesia )
Sumber : National Geography


Demikan tadi sedilit postingan kami mengenai seputar burung, baik burung cucak ijo, burung cendet,burung kenari,,burung lovebird,burung owl,burung manyar,,burung langka dan burung lainya baik dari segi perawatan burung,budidaya burung,dan sampai harga jual beli burung.

Semoga sedikit informasi ini bisa bermanfaat bagi kita suma terimakasintelah berkunjung di blog hargaburungkicau.blogspot.com.

Sunday, 18 August 2013

Kisah inspirasi : pertobatan Darto si pencari burung

Menjadi seorang kicau mania tidak berarti kita dengan bebas memilih jenis burung yang dipelihara, ada beberapa jenis burung yang memang bisa dijadikan sebagai burung peliharaan tetapi ada juga beberapa jenis termasuk burung yang harus tetap di alam nya ( habitatnya ) sebagai langkah untuk menjaga keseimbangan alam. Jika hal tersebut dilanggar, maka tidak mustahil kejadian seperti serangan hama wereng, serangan ribuan ulat dan serangan tomcat akan kembali terjadi di bumi Nusantara ini. Dan kebetulan saya membaca salah satu kisah yang menarik yang mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi kicau mania di indonesia untuk lebih menghargai alam. 

Selamat menyimak: 
  
Setelah berhenti dari SMA yang hanya dicicipinya selama 3 semester akibat ketiadaan biaya, Darto sulung dari tiga bersaudara bekerja serabutan guna meringankan beban ibunya yang sudah janda dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Khususnya, untuk membiayai sekolah dua adiknya yang masih duduk di kelas 5 dan 6 sekolah dasar.

Di saat-saat tidak ada pekerjaan yang ditawarkan orang padannya Darto menghabiskan waktu untuk menangkap (berburu) burung di semak belukar di atas perbukitan tak jauh dari kampungnnya. Burung-burung hasil buruannya itu dijualnya ke penadah di pasar. Hasilnya, lumayan. Dalam sehari dia bisa menangkap 2-3 ekor burung. Jika sedang mujur,ada kalanya burung yang tertangkap itu dari jenis yang sangat digemari orang sehingga dia bisa membawa pulang uang hingga ratusan ribu rupiah.

Merasakan betapa mudahnya memperoleh uang dengan berburu burung, akhirnya pekerjaan yang awalnya hanya sebagai pengisi waktu “nganggur” itu pun ditekuninya sebagai mata pencaharian. Darto pun mendapat julukan dari orang kampungnya dengan sebutan “Darto Burung”.

Tak terasa sudah tiga tahun Darto menjalani profesi pemburu burung. Berkat jerih payahnya itu kedua adiknya pun bisa melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang SMP. Selama itu semuanya berjalan normal dan lancar-lancar saja, sampai suatu hari….

“Ada apa Dar, kok kamu tampak lesu sekali?” tanya ibunya menyambut kedatangan Darto yang pada hari itu pulang lebih awal.

“Kalo lagi gak dapat tangkapan ya gak usah sedih, mungkin belum rejeki” hibur ibunya.

“Lho, itu mata mu kok sembab seperti orang yang habis menangis? tanya ibunya setelah Darto melepaskan topi capingnya.

Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Darto justru mengambil kurungan burung hasil tangkapan selama dua hari yang belum sempat dijualnya.

“Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku” gumam Darto sambil terisak dengan tatapan mata penuh sesal ke arah burung-burung di dalam kurungan tersebut. Bersamaan dengan ucapan mohon maaf itu tangan Darto membuka tutup kurungan dan membiarkan burung-burung di dalamnya beterbangan

“Kenapa kamu Nak, apa yang terjadi? Kenapa burung-burung itu kamu lepaskan? Itukan uang, hasil jerih payah mu sendiri, Nak” desak ibunya yang tidak mengerti dan mulai kuatir dengan keadaan anak sulungnya itu.

Setelah semua burung di kurungan itu habis beterbangan kembali ke alam bebas, barulah Darto berpaling ke arah Ibunnya.

“Maafkan Darto, ya Bu” jawab Darto lirih.

“Aku sengaja melepaskan burung-burung itu untuk menebus dosa ku kepada semua burung-burung yang aku tangkap dan kujual. Soal nilai uangnya, biarlah aku cari pekerjaan lain untuk menggantinya” lanjut Darto memulai kisah “pertobatannya” itu.

Ini kisahnya:

Dua hari sebelumnya saat berburu Darto menemukan sebuah sarang burung yang di dalamnya ada dua ekor anaknya yang masih merah, belum berbulu. Darto tahu bahwa sarang dan anak burung tersebut adalah dari jenis yang banyak penggemarnya dan berharga cukup mahal, karena itu dia putuskan untuk menangkap induknya.

Darto lalu memasang jebakan menggunakan “pulut” (getah yang bisa lengket seperti permen karet). Pulut itu dia lumurkan pada ranting di sekeliling mulut sangkar dimana sang induk pasti akan menginjaknya saat memberi makan anaknya atau sebelum masuk ke sarang.

Sebelum menemukan sarang itu Darto telah memasang banyak jebakan lain di sekitarnya. Ada yang dipasang di sekitar pohon yang sedang berbuah masak, ada yang dipasang di didekat genangan air, ada pula yang dipsang di dekat sarang rayap.

Menjelang sore, tibalah waktunya Darto “memanen” hasil jebakan-jebakan yang dipasangnya. Luar biasa. Hari itu dia dapat tujuh ekor burung dari berbagai jebakan yang dia pasang. Sayangnya dia lupa telah memasang jebakan di mulut sarang burung yang ada anaknya, sehingga tidak mendatangi jebakan tersebut.

Hari itui Darto pulang dengan perasaan girang bukan kepalang, tangkapan hari itu adalah rekor baru baginya. Karena merasa sisa uang hasil penjualan terakhir masih ada, Darto memutuskan untuk menunda menjualnya, dan beristiraht sehari. Itu sebabnya burung-burung tersebut dia masukkan ke dalam kurungan.
Dua hari kemudian dia kembali berburu ke kawasan yang sama dan dengan cara yang sama. Selesai memanen 3 ekor burung hasil jebakan hari itu teringatlah Darto akan pulut yang dia pasang di sarang yang berisi dua anak burung yang masih merah tadi.

Benar dugaan Darto, induk burung terjebak pulut dengan mudah. Bukan hanya kedua kakinya, tetapi juga bulu-bulu tubuh dan sayap burung tersebut lengket pada ranting berpulut.

Yang tidak terpikirkan oleh Darto saat memasang pulut adalah masa depan si anak burung. Satu dari tiga anak burung tersebut telah mati, satu lagi sedang sekarat, sementara seekor sisanya tak lagi mampu menangkat kepalanya meski masih bisa mencicit memanggil indukknya.

Menyaksikan pemandangan itu, seperti orang yang baru terbangun dari tidur, kesadaran hakiki Darto sebagai makhluk beradab pun sontak tersentuh. Rasa bersalah itu menusuk kalbunya yang paling dalam, sehingga tanpa dia sadari matanya telah basah, Darto pun tersedu.

Yang lebih membuat Darto sangat terharu sehingga menyebabkan matanya sembab akibat tangis, adalah ketika mendapati di paruh induk burung, yang sudah sangat lemah akibat terus meronta ingin melepaskan diri dari jebakan pulut itu, masih terselip makanan yang akan disuapkan siinduk kepada anak-anaknya. Luar biasa. Dalam keadaan tubuh terikat, di saat kepastian hidup tidak jelas, si induk burung tidak membuang atau menelan makanan yang dia peruntukkan bagi anak-anaknya.

“Maafkanlah aku… maafkan aku…aku menyesal..“ ratap Darto di hadapan anak-anak burung yang akhirnya mati itu,

Kenyataan di depan matanya ini membuat Darto bersumpah:
  •     Pertama, mulai saat itu dia berhenti menjadi pemburu burung dan tidak akan menyakiti hewan-hewan lainnya.
  •     Kedua, bahwa dia akan menegakkan rasa tanggung jawab dan arti cinta seperti si induk burung itu terhadap keluarganya.
Itulah Kisah “Darto Burung” yang bertobat menjadi pemburu burung. 

Sumber:Kanedi-Fiksi.kompasiana.com

Sunday, 4 August 2013

Pundi rupiah di dunia kicauan

Silahkan tebak berapa besar perputaran rupiah di dunia kicau mania dalam satu tahun? Jawabnya mencapai Rp- 7 Triliun. Jumlah yang fantastis menurut hasil Survei Burung Indonesia bersama University of Oxford, Pelestari Burung Indonesia (PBI),  AC Nielsen, Aksenta, dan Darwin Initiative pada tahun 2007 lalu di Pulau Jawa dan Bali. 

Bisa jadi saat ini perputaran rupiah tersebut memiliki nilai yang lebih besar lagi seiring melonjaknya beberapa harga pakan burung. Nilai sebesar itu merupakan akumulasi dari 6 parameter survei, yaitu nilai jual-beli burung, kandang, peralatan, pakan hidup, buah, biji, vitamin, obat, dokter, publikasi media, sampai perjalanan para pehobi.

Saturday, 20 July 2013

Sarumisi bamburaeng si burung madu dari Sangihe


Burung madu sangihe atau yang di habitat aslinya dijuluki Sarumisi Bamburaeng ini merupakan salah satu dari jenis burung madu yang paling dilindungi , keberadaannya bisa dibilang sangat rendah dan jarang ditemukan kecuali disatu lokasi yaitu di Pegunungan Sahendaruman dimana populasi globalnya diperkirakan hanya berjumlah sekitar 13.000 hingga 29.000 individu dewasa.

Wilayah sebaran yang sangat sempit tersebutlah membuat burung madu yang juga memiliki nama latin Aethopyga duyvenbodei dan bahasa inggrisnya Elegan Sunbird membuat Badan Konservasi Dunia IUCN ( International Union for Conservation od Nature ) bersama Pemerintah Indonesia menempatkan burung madu ini sebagai jenis yang dilindungi sesuai peraturan pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan bahkan merupakan burung yang paling langka di kawasan wallacea atau Indonesia bagian tengah.

Burung madu jantan dan betina bisa dibedakan dari warna cerah pada mahkota dan seluruh warna bulunya dimana burung madu jantan memiliki bulu penutup telinga dan tengkuku yang berwarna ungu-kemerahan serta mahkota yang berwarna hijau-biru metalik sedangkan betina memiliki warna yang lebih pucat dengan mahkota yang bersisik.

Makanan utama mereka adalah nektar yang terdapat pada bunga kelapa ataupun avertebrata dibalik dedaunan, serta sering mengunjungi tanaman yang kaya akan serangga. 

Dalam habitatnya burung ini sering terlihat sendirian atau berpasangan dan kadang ditemukan bersama dengan kelompok jenis burung madu lain atau burung cabai. ukurannya yang kecil dengan kegesitan gerakannya membuat burung ini sering merepotkan mereka yang mencoba mengambil gambar atau sekedara mengamati seperti Birdwatching atau pengamat burung sehingga tak jarang burung ini sering disebut burung yang bikin pegal leher karena sifatnya yang sangat aktif dan atraktif.



Burung ini hanya berukuran 12 cm dan hanya bisa ditemui di Pulau Sangihe , Sulawesi Utara. Seperti yang kita tahu juga Pulau Sangihe ini menyimpan beberapa burung eksotis lainnya yang juga dilindungi seprti serindit sangihe (Loriculus catamene) dan pleci sangihe (Zosterops nehrkorni) yang merupakan endemik asli dari kepulauan sangihe termasuk juga burung seriwang sangihe atau Caerulean Paradise-flycatcher ( Eutrichomyias rowleyi) yang mirip dengan tledekan biru atau selendang biru ini yang kabarnya jumlah di habitatnya diperkirakan hanya berjumlah 19 ekor saja.  

Sangihe memang merupakan surganya burung burung dilindungi di indonesia karena di kepulauan ini banyak ditemukan burung -burung yang sudah dalam kondisi kritis dan hampir punah, pelestarian serta upaya konservasi yang telah dilakukan banyak pihak baik itu pemerintah atau sukarelawan harus mendapat dukungan penuh dari kita semua dan bukan hanya di kawasan Sangihe saja, misalnya di Pulau Jawa,  konservasi atas burung ekek geling yang jumlahnya menurun drastis juga patut menjadi perhatian serius dari banyak pihak. 

Salam kicau!